Naiknya Tarif Angkot, Afifudin : Sama Saja Jadikan Masyarakat Sebagai Tumbal

  • Whatsapp
Rofik Afifudin
Sekretaris Komisi III DPRD Maluku, Rofik Afifudin

Ambon, MalukuPost.com – Kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon dengan menaikan tarif angkutan kota (Angkot) sesuai keputusan Walikota, Richard Louhenapessy nomor 613 tahun 2021 tertanggal 7 September 2021 tentang penyesuaian Tarif Angkutan Jalan Untuk Penumpang Umum kelas ekonomi untuk 63 trayek mendapat respon dari berbagai pihak mulai dari masyarakat, hingga anggota DPRD Maluku, salah satunya Rofik Afifudin.

Kepada wartawan di balai rakyat, karang panjang Ambon, selasa (07/09/2021), Sekretaris Komisi III DPRD Maluku ini menilai sebelum memutuskan menaikan tarif Angkot, seharusnya pemerintah kota Ambon melakukan kajian lebih mendalam. Mengingat kebijakan ini, tentunya akan berimbas pada semua lini.

Bacaan Lainnya

“Naiknya tarif angkot, akan berimplikasi terhadap naiknya spare part mobil, bisa berimbas juga ke kenaikan harga pokok yang lain, karena kalau biaya trasnportasi naik dia akan di tutupi dengan biaya ekonomis yang lain, jadi kita tidak hanya melihat kenaikan tarif angkot di status sisi saja tapi implikasi tersebut sangat banyak dan luas,”ungkapnya.

Untuk itu, dirinya menilai sudah seharusnya Pemerintah Kota Ambon berpikir untuk membuka sentra ekonomi, dengan tidak melakukan pengetatan sumber-sumber ekonomi masyarakat.

“Sudah saya tekankan dari awal, kalau sentra ekonomi dibuka, menciptakan lahan yang baru ketika masyarakat sudah sejahtera. Mau kasih baik berapapun masyarakat sudah tidak masalah. Tapi kalau di sisi lain kita mengetatkan sentra ekonomi publik, berimplikasi pada pendapatan masyarakat dan disisi lain kita mengencangkan kenaikan tarif seperti itu sama saja kita menjadikan masyarakat sebagai tumbal,”tuturnya.

Belum lagi ditambah dengan sistim belajar yang masih online, menurutnya akan menambah beban masyarakat dengan membeli pulsa untuk anak, tidak punya handphone (hp) mesti beli, tentunya akan menambahkan kesengsaraan masyarakat ditengah pandemi Covid-19 saat ini.

“Coba lebih peka mendengar keluhan masyarakat, harus ada biaya tambahan beli pulsa untuk sekolah. Jangan kita berpikir parsial, sebagai pemimpin kita harus berpikir secara holistik secara keseluruhan, ini ada kaitannya, ini fakta empiris yang saya dengar dan saksikan langsung,”ucapnya.

Ia mengumpamakan jika berada di posisi pemkot Ambon, tentu tidak akan menaikkan tarif angkot. Tetapi melakukan koordinasi dengan Pertamina, atau bisa juga menurunkan beban pajak angkot.

“Seharusnya mencari jalan keluar yang terbaik, itu yang mesti dilakukan, rakyat lagi susah dikasih susah,”cetusnya.

Hal lain yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tarif angkot, menurutnya harus ada pengawasan ketat dari Dinas Perhubungan.

“Mengingat tarif tidak genap tapi ganjil misalnya, Rp3,500-Rp4.500, masyarakat pasti bayar nya tidak seperti itu, kalau seperti demikian pengawasan harus lebih ditingkatkan dinas perhubungan terhadap sopir angkot, sehingga masyarakat membayar sesuai harga yang ditentukan,”pinta Rofik.

 

Pos terkait