Parawisata Di Kepulauan Kei Butuh Perhatian Pemprov Maluku

Ambon, MalukuPost.com – Pemerintah Provinsi Maluku diminta untuk memberikan perhatian serius terhadap pengembangan parawisata di kedua daerah Kepulauan Kei, yaitu Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual.

Permintaan ini disampaikan Anggota Komisi I DPRD Provinsi Maluku, Muin Refra kepada wartawan di baileo rakyat, karang panjang, Ambon, rabu (22/06/2022).

Bacaan Lainnya

Dikatakan, memiliki 72 destinasi wisata baik sejarah maupun bahari, membuat Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Maluku Tenggara dan Kota Tual menjadikan parawisata sebagai agenda yang sangat penting dalam proses pemerintahan.

Bahkan untuk untuk pengembangan potensi parawisata, kedua daerah mengelontorkan biaya yang cukup besar, yang ditetapkan dalam APBD.

Alhasil berkat kerja keras kedua Pemda, kini parawisata di kedua daerah yang hanya dipisahkan jembatan Rosenberg telah masuk dalam agenda nasional Kementerian Parawisata.

Namun sayangnya, kata Muin keberhasilan parawisata di kedua daerah, tidak mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Maluku.

Untuk itu, Muin mengharapkan adanya perhatian dari Pemprov Maluku, dalam hal ini Dinas Parawisata dalam pengembangan potensi parawisata di kedua daerah dimaksud.

“Kita berharap adanya atensi besar dari pemprov terkair pertumbuhan kebutuhan parawisata di Maluku Tenggara dan Kota Tual,”harapnya.

Diberitakan sebelumnya, Siapa sih yang tidak mengenal Kabupaten Maluku Tenggara, daerah di bagian Indonesia Timur, yang berada dalam Provinsi Maluku, mempunyai kekayaan alam yang indah, serta alamnya masih cukup terjaga.

Daerah yang memiliki luas 1.032 kilometer ini terkenal potensi destinasi wisata, baik wisata alam, budaya, dan sejarah. Namun sebagian besar wisatanya adalah wisata alam seperti pantai dan pulau dengan air berwarna biru kehijauan yang bening dan jernih. Salah satunya, pantai Pasir Panjang (Pantai Ngurbloat), yang dikenal unik karena butiran pasirnya terhalus di dunia, hal itu juga diungkapkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno, saat menghadiri Festival Pesona Meti Kei oktober 2021 lalu.

Bahkan, destinasi wisata pasir panjang yang terletak di Desa Ngilngof ditetapkan sebagai desa wisata terbaik Indonesia, bahkan Pesona Meti Kei yang dilaksanakan setiap tahun oleh Pemerintah Kabupaten Tenggara telah masuk dalam kalander parawisata nasional.

Potensi sektor pariwisata di daerah yang memiliki 191 desa ini, dinilai sangat besar. Daerah ini bahkan bisa mengembangkan potensi tersebut sama seperti Bali, yang terkenal luas di seluruh mancanegara.

Untuk mencapai hal tersebut, bukan hal yang mudah, membutuhkan dukungan dari semua pihak, termasuk Dinas Parawisata Provinsi Maluku, dalam membantu mempromosikan parawisata.

Namun sayangnya hal tersebut tidak sesuai harapan, Dinas Parawisata Maluku terkesan tutup mata, atau tidak memperhatikan potensi wisata di bumi larvul ngabal.

“Bayangkan Pesona Meti Kei telah ditetapkan dalam kalander departemen parawisata nasional, bahkan pantai pasir panjang itu desa wisata terbaik Indonesia, tapi tidak dilirik parawisata provinsi. Saya mau lapor Gubernur, kenapa ini tidak pernah diperhatikan, dan harus transparan,”ungkap Bupati Maluku Tenggara, M Thaher Hanubun kepada wartawan di Ambon, jumat (27/05/2022).

Dikatakan, selama ini dalam memperjuangkan potensi wisata di Maluku Tenggara merupakan kerja kerasnya, namun tentu ada dukungan melalui surat rekomendasi yang dikeluarkan Gubernur Murad Ismail.

“Selama ini saya berjalan dengan rekomendasi Gubernur, dan saya akui tertolong dengan rekomendasi Gubernur, itupun saya jalan sendiri. Tetapi paling tidak dinas terkait harus memperhatikan, namun kenyataannya tidak demikian,”cetusnya.

Menurut Hanubun, Maluku terdiri dari 11 kabupaten/kota, sudah tentu kosentrasi pembangunan harus dilihat secara keseluruhan, bukan hanya satu dua daerah saja. Kei juga bagian dari Maluku yang perlu mendapat perhatian serius dari Dinas Parawisata Maluku.

“Maluku harus dilihat secara utuh, jangan hanya satu dua wilayah, bukan hanya Ambon dan Maluku Tengah. Karena kosentrasi Dinas Parawisata hanya dua wilayah ini saja. Seharusnya kosentrasi pembangunan harus dilihat secara keseluruhan,”pungkasnya.

 

Pos terkait